Polisi Sita Puluhan Ribu Pil Koplo dari 2 Pengedar

 

BONANSA FM – Kediri, Satuan Resnarkoba Polres Kediri Kota membekuk Khusnul Yaqin pengedar narkoba warga Jl. Dhorowati Kelurahan Mrican Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Dari tersangka diamankan barang bukti sebanyak 2.100 pil jenis LL dan HP sebagai alat transaksi.

Tersangka berikut barang bukti kini diamankan di Mapolres Kediri Kota, setelah sebelumnya tersangka diamankan di Jl. Mayor Bismo Gang 3 Kelurahan Semampir Kecamatan Kota Kediri.

Siswandi, Kasat Resnarkoba Polres Kediri Kota menuturkan, setelah dikembangkan, petugas kemudian mengamankan Desi Maulidasari warga Desa Majan Kedungwaru Tulungagung. Dari Desi petugas mengamankan barang bukti sekitar 26 ribu butir pil koplo. Kini pihaknya masih terus mengembangkan kasus tersebut.

Menurut Siswandi, kedua tersangka diduga merupakan jaringan pengedar pil koplo antar daerah. Kedua tersangka tanpa keahlian dan kewenangan menyimpan mengedarkan sediaan farmasi yang tidak memenuhi syarat keamanan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. (HM)

Kampus UB Kediri 2017 Sudah Bisa digunakan

 

BONANSA FM – Kediri, Kampus Universitas Brawijaya (UB) III di Kota Kediri ditargetkan sudah bisa digunakan perkuliahan pada 2017 nanti. Sehingga, masyarakat Kediri tidak perlu lagi ke Kota Malang untuk bisa kuliah di UB.

Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar menginginkan agar segera terselesaikan pembangunan tersebut. Sehingga pada gilirannya akan menumbuh kembangkan sektor ekonomi masyarakat setempat.

Menurutnya, 20 hektar tanah dari total 23 hektar tanah dipinjamkan ke UB untuk bangunan kampus dan fasilitas serta sarana lainnya. Sementara untuk tiga hektar akan dijadikan sentra ekonomi akan disewakan kepada masyarakat setempat, untuk usaha maupun jasa. Sedangkan UB sudah disepakati tidak boleh membuka kegiatan perekonomian.

Mas Abu menegaskan tidak menghibahkan tanah tersebut, namun memberikan fasilitas kepada kampus UB untuk melaksanakan pendidikan di Kota Kediri. Menurutnya, ini merupakan permintaan dari Rektor UB agar kerjasamanya bukan berupa bentuk hibah. (HM)

Organda Tidak Keberatan atas Beroperasinya Bus Pelajar

 

BONANSA FM – Kediri, Organda Kediri mengaku mendukung program Pemkot Kediri menfasilitasi tranportasi pelajar menggunakan bus sekolah gratis. Sebab program ini tidak berpengaruh sama sekali pada pendapatan pengusaha angkutan kota. Selain karena pemasukan pendapatan dari pelajar sedikit, line atau trayek yang digunakan bus pelajar bukan line yang menjadi trayek angkutan kota.

Ketua Organda Kediri Subur Santoso menuturkan, program bus pelajar ini adalah untuk kepentingan umum sehinga para pengusaha angkutan kota tidak akan mempermasalahkannya. Apalagi bus sekolah yang disediakan hanya 3 unit sehingga pengaruhnya tidak terlalu signifikan.

Subur Santoso menambahkan, meski jelas mendukung program bus sekolah, Organda meminta pengoperasian bus sekolah diawasi ketat. Hal ini untuk mencegah bus-bus gratis itu digunakan masyarakat umum di luar jam anak sekolah.

Kata Subur, salah satu catatan yang harus diperhatikan adalah metode pengangkutan pelajar yang harus merata. Sistemnya harus dirancang sedemikian rupa, sehingga memudahkan para pelajar dalam mengaksesnya. (HM)

Pemkot Fasilitasi Tranportasi Pelajar ke Sekolah

 

BONANSA FM – Kediri, Pemerintah Kota Kediri menfasilitasi para pelajar untuk kemudahan tranportasi ke sekolah masing masing menggunakan bus sekolah. Para pelajar mulai tingkat SD sampai dengan SMA setiap hari gratis naik bus sekolah. Ada 3 bus bantuan pemerintah pusat yang masing-masing bus mempunyai line yang berbeda sesuai rute masing-masing.

Fasilitas tranportasi sekolah bagi para pelajar ini dilaunching langsung Aalikota Abdullah Abu Bakar pada Rabu pagi didampingi Kapolres dan sejumlah petinggi instansi vertical. Dalam kesempatan itu, walikota menegaskan fasilitasi tranportasi ini dimaksutkan untuk kemudahan dan keselamatan para pelajar.

Abdullah Abu Bakar menambahkan, bus gratis tersebut juga untuk mengajarkan pada para pelajar guna belajar mandiri. Selain itu juga untuk membantu orang tua mengurangi beban tranportasi sekolah anaknya.

Sementara mengenai teknis pelaksanaan tranportasi gratis ini siswa tidak perlu membeli karcis. Tapi cukup dengan mengenakan pakaian seragam sekolah, mereka bisa langsung naik bus dengan gratis tanpa dipungut bayaran. Terdapat 3 trayek yang bisa dimanfaatkan oleh para siswa. (HM)

Nasib Becak yang Semakin Terpinggirkan di Era Serba Mesin

 

BONANSA FM – Kediri, Janggol, yaa.. istilah yang merujuk pada deretan becak dan para abang penarik becak masih menjadi pemandangan sehari-hari di Kota Kediri. Biasanya mereka mangkal di perempatan-perempatan yang menjadi tempat pemberhentian bus, pasar-pasar tradisional, sekolah, RS maupun tempat-tempat umum lainnya. Ada semacam peraturan tidak tertulis, bahwa yang janggol lebih lama itu yang berhak menarik penumpang lebih dulu, semacam toleransi dan tepo seliro di antara para abang becak, yang sebenarnya juga cerminan kesabaran dan penghormatan di antara sesama mereka. Sering saya melihat tatapan penuh harap saat melewati mereka, juga menawari untuk naik becak, tapi belum tentu dalam setahun saya naik becak, karena mobilitas sehari-hari memang lebih mudah, murah, cepat dan praktis naik motor. Dan hal ini saya yakin juga dialami kebanyakan anggota masyarakat lain. Lantas siapa pelanggan atau konsumen mereka? Bisa jadi dalam sehari mereka tidak mendapat satu penumpang pun.

 

Seperti yang dituturkan Abdul Manan, kakek usia 73 tahun yang masih bertahan menjadi tukang becak sejak puluhan tahun silam, ia mengaku kadang sehari tidak mendapat satupun penumpang..

 

Hal yang sama juga dialami Ugik, tukang becak yang biasa mangkal di pasar Bandar dan bertahan dengan profesinya sejak 30 tahun silam.

 

Lantas kenapa keduanya ebrtahan menjadi penarik becak?, Abdul manan, warga kelurahan Pojok mengaku untuk gerak badan biar tidak loyo dan ada aktivitas. Untuk makan sehari-hari dia mendapat jatah dari anaknya di Surabaya sebesar Rp.400 ribu.

 

Sedang Ugik yang tinggal bersama istrinya dan tidak memiliki anak, mengaku karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan. Sesekali dia menjadi buruh di sawah jika ada yang menyuruh.

 

Baik Abdul manan dan Ugik mengakui, ada perbedaan besar saat menjadi tukang becak di era 70 dan 80-an dengan kondisi sekarang. Dengan semakin banyaknya kendaraan bermotor, angkota, mobil dan sejenisnya, menjadikan profesi mengayuh becak semakin terpingggirkan. Mereka hanya pasrah dan sabar, semoga tetap ada rejeki yang datang dan masih ada orang-orang yang memanfaatkan tenaganya untuk mengantar dengan becak ke tempat tujuan. Keyakinan seperti itulah yang membuat mereka tetap bertahan. Nah.. pernahkah Anda mengingat, kapan terakhir kali naik becak?? (YS)


 

Cerita dari Penghuni Panti Asuhan

 

BONANSA FM – Kediri, Ita, demikian dia biasa dipanggil, sejak 2 tahun lalu menjadi penghuni sebuah panti asuhan khusus perempuan di kawasan Bandar Kidul. Dia menerima dikirim ke panti asuhan agar bisa melanjutkan sekolah karena ayahnya terkena stroke, sedang ibunya buruh tani dengan penghasilan tidak menentu. Meski harus mengikuti aturan panti, dan terpisah dengan orang tuanya yang tinggal di Nganjuk, Ita menikmati rutinitas yang dia jalani, untuk menggapai cita2nya menjadi guru.

 

Sementara itu Tria, gadis manis asal Desa Kalibogo Gringging juga mengaku senang tinggal di panti asuhan. Dia justru dikirim oleh kedua orang tuanya tinggal di panti agar bisa melanjutkan sekolah, karena ketiadaan beaya. Tria yang kini berusia 13 tahun mengaku ingin menjadi pramugari karena bisa melanglang buana, meski kini naik pesawat terbang masih sebatas di angan-angan.

 

Kisah Ita dan Tria hanyalah sebagian kecil dari mereka yang ingin mengejar cita-cita tapi terbentur keterbatasan beaya. Dengan tinggal di panti, segala kebutuhan hidup tercukupi mulai tempat tinggal, makan, uang saku dan beaya sekolah. Mereka berucap syukur ada banyak dermawan dan donatur yang selama ini sudah menyantuni panti asuhan tempat mereka bernaung dengan tanpa pamrih.

 

Semoga cita cita mereka tercapai, dan menjadi generasi ke depan yang mampu menebar manfaat untuk masyarakat. (YS)


 

Teliti dalam Memilih Makanan Olahan

 

BONANSA FM – Kediri, Ada pepatah we are what we eat, kita adalah apa yang kita makan. Ungkapan itu memang tidak berlebihan, karena jika sari-sari makanan yang telah kita konsumsi beredar dalam darah keseluruh sel-sel tubuh, akan sangat berpengaruh pada sistem metabolisme dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Meski ada mekanisme alami untuk memfilter dan menyaring racun, namun jika terus menerus mengkonmsumsi makanan yang tidak baik, pasti akan menyebabkan banyak masalah kesehatan.

 

Di tengah maraknya berbagai macam dan jenis makanan olahan dengan berbagai tampilan kemasan dan cita rasa, semakin tingggi godaan untuk tidak meliriknya. Namun hati-hati karena makanan yang sehat, tidak ditentukan dengan tampilan yang menarik atau harga yang mahal. Sri Mulyaningtyas, ahli farmasi dari Seksi Farkalkes Dinas Kesehatan Kota Kediri mengingatkan, dalam memilih makanan pada prinsipnya harus terbebas dari 3 bentuk cemaran yaitu cemaran fisik, kimia, dan biologi.

 

Alumnus Fakultas Farmasi UNAIR tahun 1990 yang biasa dipanggil Tyas ini juga menghimbau, para ibu khususnya untuk juga teliti dalam memilih bahan makanan olahan yang akan disajikan untuk keluarga. Yang penting juga diperhatikan adalah tanggal kadaluwarsa, komposisi bahan, serta ada nomor ijin dari institusi yang berwenang mengeluarkan. Kehati-hatian semacam ini perlu dijadikan kebiasaan, demi menjaga kesehatan keluarga dan terciptanya generasi yang berkualitas dan berprestasi. Saat ditanya apa pihaknya sering menemukan makanan olahan yang tidak layak tapi masih dijual, Tyas mengatakan biasanya pada tanggal kadaluwarsa dan kondisi kemasan yang sudah kurang layak. Tapi menurutnya itu bukan kesengajaan lebih pada kelalaian atau kekurangtelitian penjual. (YS)


 

Orangtua Kunci Mengatasai Permasalahan pada Remaja

 

BONANSA FM – Kediri, Awkarin, sosok remaja yang kini menjadi terkenal bukan karena prestasinya tapi posting-postingannya di instagram yang mencemaskan banyak orang tua. Terkait foto-foto vulgar saat pacaran, kata-kata kasar dan hal-hal negatif lain yang anehnya memiliki banyak pengikut dan bahkan menjadi model untuk beberapa produk fashion. Fenomena Awkarin hanyalah salah satu contoh bergesernya nilai-nilai yang kini banyak terjadi di kalangan para remaja kita, yang semakin dipicu dengan keberadaan internet dengan beragam media sosial yang bisa menyebarkan sesuatu dengan cepat, baik gambar, teks, suara maupun video. Menurut Dian Pandu Winarti, psikolog alumnus UGM melihat kondisi ini jangan serta merta menyalahkan internet, lingkungan pergaulan atau yang lain. Justru menjadi moment untuk introspeksi para orangtua tentang bagaimana pola asuh ayng diberikan kepada anak anaknya.

 

Pandu menambahkan orangtua juga harus menyiapkan anak memasuki era digital, bukan dengan melarang anak memakai gadget tapi mengajarkan anak bahwa penggunaan gadget itu ada waktu dan batasnya. Hal ini juga harus diikuti keteladanan para orang tua untuk melakukan hal sama, menahan diri asyik dengan gadget saat bersama anak-anak. (YS)


 

Pelaku Kekerasan pada Anak Kebanyakan Orang Dekat

 

BONANSA FM – Kediri, Selama memberi pendampingan terkait kasus kasus kekerasan pada anak, Anis Eva Permatasari dari LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Kota Kediri mengaku, pelaku kekerasan pada anak kebanyakan adalah orang-orang dekat yang luput dari kecurigaan melakukan hal tersebut, seperti paman, saudara, teman, bahkan ayah kandung sendiri. Fakta ini cukup ironis dan menyedihkan, seperti pada kasus yang pernah dia tangani dimana korban sampai hendak melakukan upaya bunuh diri karena kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri sejak dia kelas 1 SMP dan baru terungkap saat dia duduk di bangku SMP kelas 3.

 

Anis menambahkan, kenapa baru terungkap 2 tahun kemudian karena anak tidak punya keberanian melaporkan kepada sang ibu, karena takut dianggap bohong dan ibunya juga sering memukul.

 

Tak hanya menanggung derita akibat kekerasan seksual tapi anak juga menanggung beban psikologis yang cukup berat karena tidak ada orang yang dianggapnya bisa untuk bersandar, sehingga berujung keinginan mengakhiri hidupnya. Mengambil hikmah dari berbagai kasus kekerasan yang ditangani, menurut Anis upaya pencegahan terbaik memang kembali kepada ketahanan keluarga, dan dialog serta komunikasi yang baik antar anggota keluarga. (YS)

Lonjakan Kasus Kekerasan pada Anak di Tahun 2016

 

BONANSA FM – Kediri, Sampai akhir Agustus 2016, LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Kota Kediri mencatat ada 13 kasus kekerasan seksual dan 11 kasus kekerasan fisik pada anak di Kota Kediri. Untuk kasus kekerasan seksual meliputi penccabulan dan ada yang sampai persetubuha, di mana ada diantaranya yang pelakunya juga masih tergolong usia anak. Hal ini disampaikan Anis Eva Permatasari dari Divisi Layanan Anak LPA (Lembaga Perlindungan Anak) Kota Kediri.

 

Anis menambahkan lonjakan kasus terjadi pada bulan Juli dan Agustus di mana ada 8 kasus baru 6 kasus kekerasan seksual dan 2 kasus kekerasan fisik dengan jumlah korban 14 anak. Data ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibanding tahun 2015 yang mencatat 9 kasus. Masih menurut Anis, meningkatnya jumlah kasus yang ada dipengaruhi beberapa factor, salah satunya kesadaran masyarakat yang meningkat untuk melaporkan kasus-kasus kekerasan pada anak yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. Ini karena gencarnya sosialisasi yang dilakukan untuk mendorong masyarakat melaporkan kasus-kasus kekerasan pada anak, dan juga sudah mulai dibentuknya Satgas perlindungan anak sampai tingkat kelurahan.

Menurut UU Perlindungan Anak No 35 tahun 2014, kekerasan pada anak meliputi kekerasan seksual, kekerasan fisik, kekerasan psikologis dan kekerasan ekonomi seperti penelantaran pada anak. Berdasar data yang ada, kebanyakan kasus yang dilaporkan menyangkut kekerasan fisik dan kekerasan seksual. (YS)