| | Posted in News
 TEXT SIZE :  

 

 

BONANSA FM – Kediri, Janggol, yaa.. istilah yang merujuk pada deretan becak dan para abang penarik becak masih menjadi pemandangan sehari-hari di Kota Kediri. Biasanya mereka mangkal di perempatan-perempatan yang menjadi tempat pemberhentian bus, pasar-pasar tradisional, sekolah, RS maupun tempat-tempat umum lainnya. Ada semacam peraturan tidak tertulis, bahwa yang janggol lebih lama itu yang berhak menarik penumpang lebih dulu, semacam toleransi dan tepo seliro di antara para abang becak, yang sebenarnya juga cerminan kesabaran dan penghormatan di antara sesama mereka. Sering saya melihat tatapan penuh harap saat melewati mereka, juga menawari untuk naik becak, tapi belum tentu dalam setahun saya naik becak, karena mobilitas sehari-hari memang lebih mudah, murah, cepat dan praktis naik motor. Dan hal ini saya yakin juga dialami kebanyakan anggota masyarakat lain. Lantas siapa pelanggan atau konsumen mereka? Bisa jadi dalam sehari mereka tidak mendapat satu penumpang pun.

 

Seperti yang dituturkan Abdul Manan, kakek usia 73 tahun yang masih bertahan menjadi tukang becak sejak puluhan tahun silam, ia mengaku kadang sehari tidak mendapat satupun penumpang..

 

Hal yang sama juga dialami Ugik, tukang becak yang biasa mangkal di pasar Bandar dan bertahan dengan profesinya sejak 30 tahun silam.

 

Lantas kenapa keduanya ebrtahan menjadi penarik becak?, Abdul manan, warga kelurahan Pojok mengaku untuk gerak badan biar tidak loyo dan ada aktivitas. Untuk makan sehari-hari dia mendapat jatah dari anaknya di Surabaya sebesar Rp.400 ribu.

 

Sedang Ugik yang tinggal bersama istrinya dan tidak memiliki anak, mengaku karena tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan. Sesekali dia menjadi buruh di sawah jika ada yang menyuruh.

 

Baik Abdul manan dan Ugik mengakui, ada perbedaan besar saat menjadi tukang becak di era 70 dan 80-an dengan kondisi sekarang. Dengan semakin banyaknya kendaraan bermotor, angkota, mobil dan sejenisnya, menjadikan profesi mengayuh becak semakin terpingggirkan. Mereka hanya pasrah dan sabar, semoga tetap ada rejeki yang datang dan masih ada orang-orang yang memanfaatkan tenaganya untuk mengantar dengan becak ke tempat tujuan. Keyakinan seperti itulah yang membuat mereka tetap bertahan. Nah.. pernahkah Anda mengingat, kapan terakhir kali naik becak?? (YS)


 

 
 
Tinggalkan Pesan
 
 
 

 
 
 
*

 

 

 

Partners